Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan.
Persiapan
Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani
dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan
ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara
ibadah wajib (fardu) lainnya.
Oleh sebab itu, ia disyariatkan
paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut
dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Senin-Kamis dan puasa hari-hari
putih (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga
Sya’ban.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah
SAW senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai
Rasul, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya
pada setiap hari Senin dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap
Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman,
‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).
Sedangkan
persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan shalat
tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan,
shalat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi
pribadi Rasul SAW.
Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya
kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan ssalat tahajud, padahal dosa-dosa
beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan nada
yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”
Memasuki
bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah
puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut
dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak
aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim.
Jika
biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di
bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh
Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban)
sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak
pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan.
Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar
Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat
Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai
Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan
Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan
manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal
manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat
amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).
Sya’ban
adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum
berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan
penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan
20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan
Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga
lebih dari jumlah hari dalam setahun.
Maka, hanya persiapan yang
baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula
sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk
mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang
maksimal di akhir Ramadhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar